الحب الذي تغير
كانت السيدة ديسي امرأة لا تزال تبدو أنيقة رغم اقتراب عمرها من الأربعين. لقد توفي زوجها منذ فترة طويلة، تاركًا لها ابنها الوحيد، أنطون. عاشا معًا، يعتمدان على بعضهما البعض، وبدون أن يدركا، بدأ هذا القرب يثير مشاعر لا ينبغي أن تكون.
كان أنطون شابًا وسيمًا يبلغ من العمر 22 عامًا، وكان لديه حبيبة تدعى دوي. كانت فتاة لطيفة ومليئة بالاهتمام، وكانت تحب أنطون كثيرًا. لكن في الآونة الأخيرة، شعر أنطون بشيء غريب بداخله. في كل مرة يرى والدته، يخفق قلبه أكثر مما ينبغي.
في إحدى الليالي، عندما كانت الأمطار الغزيرة تهطل على المدينة، جلست السيدة ديسي في غرفة المعيشة، تحدق في صورة عائلتهم التي لم يبقَ منها سوى الذكريات. اقترب منها أنطون وسألها: "أمي، لماذا تبدين حزينة؟"
ابتسمت السيدة ديسي ابتسامة خفيفة وقالت: "لا شيء، يا بني. فقط أفكر في مدى سرعة مرور الوقت. كنت صغيرًا، والآن أصبحت شابًا ناضجًا."
أمسك أنطون بيد والدته وقال: "سأكون دائمًا هنا من أجل أمي."
التقت نظراتهما، ولحظة واحدة فقط، اهتزت مشاعر غير مفهومة في قلبيهما. لكن في تلك اللحظة، أدركت السيدة ديسي أن هذا خطأ.
في اليوم التالي، جاءت دوي إلى المنزل ورأت مدى قرب أنطون ووالدته. بدأت تشعر أن هناك شيئًا غير عادي. حاولت التحدث إلى أنطون قائلة: "أشعر أنك تغيرت مؤخرًا."
تنهد أنطون بعمق وقال: "أنا أيضًا أشعر بشيء غريب، دوي. أشعر أنني قريب جدًا من أمي، أكثر مما ينبغي."
نظرت دوي إليه بعمق ثم قالت بلطف: "أنطون، لقد فقدت حب الأب، لذا وجهت كل مشاعرك نحو والدتك. لكن هذا ليس الحب كما ينبغي أن يكون. الحب يجب أن يمنح الحرية، لا أن يقيد."
ظل أنطون صامتًا، وكلمات دوي أصابت قلبه وأيقظته.
في ذلك اليوم، اقترب أنطون من والدته وتحدث معها من القلب إلى القلب. قال: "أمي، أدركت شيئًا. أنا أحبك، لكن ليس كما يحب الرجل المرأة. كنت فقط خائفًا من فقدان الأسرة الوحيدة التي أملكها."
ذرفت السيدة ديسي دموعها، لكنها شعرت بالراحة. قالت: "يا بني، أنا أيضًا أحبك، كأم ستدعمك دائمًا."
ابتسم أنطون، وكأن حملاً ثقيلًا قد زال عن قلبه. ثم ذهب ليبحث عن دوي واعتذر منها. وعادوا معًا ليبنوا علاقة أكثر صحة.
مر الوقت، وتزوج أنطون ودوي، بينما وجدت السيدة ديسي في النهاية حبها الحقيقي مع رجل طيب أحبها بصدق. وعاش الجميع بسعادة، حيث أصبح الحب في مكانه الصحيح.
النهاية.
Kucing dan Harimau Berebut Ikan
Di sebuah hutan yang lebat, hiduplah seekor harimau besar
dan seekor kucing kecil. Meski mereka masih memiliki hubungan jauh sebagai
sesama karnivora, harimau sering menganggap dirinya lebih kuat dan berhak atas
segala hal dibandingkan kucing.
Suatu hari, seekor nelayan sedang memancing di sungai dekat
hutan. Tanpa sengaja, seekor ikan besar yang ditangkapnya terlepas dari ember
dan jatuh ke tanah. Nelayan itu tak menyadarinya dan pergi begitu saja.
Kucing yang kebetulan sedang berburu melihat ikan itu
terlebih dahulu. Ia melompat gembira dan segera membawa ikan itu dengan
giginya. Namun, baru saja ia hendak mencari tempat yang nyaman untuk
menikmatinya, harimau muncul dari semak-semak.
"Hei, kucing kecil! Apa yang kau bawa itu?" tanya
harimau dengan suara menggelegar.
Kucing menelan ludah, tapi berusaha tetap tenang. "Aku
menemukan ikan ini di tepi sungai, dan aku akan memakannya."
Harimau tertawa mengejek. "Apa kau lupa? Aku lebih
besar, lebih kuat, dan lebih pantas mendapatkan ikan itu daripada kau!"
"Tapi aku yang menemukannya dulu!" balas kucing,
tak mau menyerah.
Harimau menggeram, lalu dengan sekali cakaran, ikan itu pun
terlepas dari mulut kucing. Kucing melompat mundur ketakutan, tapi ia tidak mau
menyerah begitu saja.
Tiba-tiba, seekor monyet tua yang bijaksana turun dari
pohon dan menyaksikan pertengkaran itu.
"Ada apa ini?" tanya monyet.
"Harimau merebut ikan yang kutemukan!" kata
kucing kesal.
Harimau mendengus. "Aku lebih kuat, maka aku yang
lebih berhak!"
Monyet mengelus janggutnya dan tersenyum. "Kalau
begitu, aku akan menjadi penengah. Aku akan membagi ikan ini menjadi dua
bagian."
Harimau tertawa. "Hahaha! Bagaimana bisa kau
membaginya? Aku jelas berhak mendapatkan lebih banyak!"
Monyet mengambil ikan itu, membaginya menjadi dua bagian
yang hampir sama besar. Namun, sebelum ia memberikan bagiannya kepada harimau
dan kucing, ia berkata, "Karena kalian bertengkar dan tidak bisa
menyelesaikan masalah dengan baik, maka sebagai hakim, aku harus mengambil
sedikit bagian sebagai upah."
Monyet pun menggigit sebagian ikan itu, membuat bagiannya
sedikit lebih kecil dari sebelumnya. Harimau dan kucing menatapnya dengan
kesal.
"Eh, bagiannya jadi tidak sama besar!" kata
harimau.
"Benar! Itu tidak adil!" timpal kucing.
Monyet mengangguk. "Kalau begitu, aku harus menggigit
sedikit dari bagian yang lebih besar agar seimbang."
Lagi-lagi monyet menggigit sedikit bagian yang lebih besar.
Namun, setelah ia lakukan itu, bagian lainnya menjadi lebih besar. Maka, ia
kembali menggigit bagian yang lain untuk menyesuaikan.
Begitu terus hingga akhirnya yang tersisa hanya sedikit
daging ikan. Monyet pun segera melahap sisanya dengan cepat dan tersenyum.
"Nah, masalah selesai! Tidak ada lagi ikan yang perlu
diperebutkan!" katanya sambil melompat ke pohon.
Harimau dan kucing terdiam, menatap satu sama lain dengan
wajah kecewa. Mereka sadar bahwa karena keserakahan mereka, akhirnya tak ada
yang mendapatkan ikan.
Hikmah dari Cerita Ini
- Keserakahan hanya
akan merugikan diri sendiri – Jika harimau tidak serakah dan kucing
tidak terlalu mempertahankan semuanya untuk dirinya, mereka berdua bisa
berbagi dengan adil.
- Selesaikan masalah
dengan kepala dingin – Bertengkar tidak selalu menghasilkan solusi,
justru bisa membuat orang lain mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
- Kekuatan bukan
alasan untuk merampas hak orang lain – Seperti harimau yang merasa
lebih kuat, ia menganggap berhak merebut dari yang lebih lemah. Namun,
dalam kehidupan, bukan kekuatan yang menentukan kebenaran, melainkan
keadilan.
TAMAT
ٱلْقِطُّ وَٱلنَّمِرُ يَتَنَازَعَانِ عَلَى ٱلسَّمَكَةِ
فِي غَابَةٍ كَثِيفَةٍ، كَانَ هُنَاكَ نَمِرٌ كَبِيرٌ وَقِطٌّ صَغِيرٌ يَعِيشَانِ فِيهَا. وَعَلَى ٱلرَّغْمِ مِنْ أَنَّهُمَا يَنْتَمِيَانِ إِلَى نَفْسِ ٱلْعَائِلَةِ مِنَ ٱلْحَيَوَانَاتِ آكِلَةِ ٱللُّحُومِ، إِلَّا أَنَّ ٱلنَّمِرَ كَانَ دَائِمًا يَعْتَبِرُ نَفْسَهُ أَقْوَى وَأَحَقَّ مِنَ ٱلْقِطِّ فِي كُلِّ شَيْءٍ.
فِي أَحَدِ ٱلْأَيَّامِ، كَانَ صَيَّادٌ يَصْطَادُ ٱلسَّمَكَ فِي ٱلنَّهْرِ ٱلْقَرِيبِ مِنَ ٱلْغَابَةِ. وَبَيْنَمَا كَانَ يَضَعُ أَسْمَاكَهُ فِي ٱلدَّلْوِ، سَقَطَتْ سَمَكَةٌ كَبِيرَةٌ دُونَ أَنْ يَنْتَبِهَ لَهَا، ثُمَّ غَادَرَ ٱلْمَكَانَ.
رَأَى ٱلْقِطُّ ٱلسَّمَكَةَ أَوَّلًا وَهُوَ يَبْحَثُ عَنْ طَعَامٍ، فَفَرِحَ كَثِيرًا وَحَمَلَهَا بِأَسْنَانِهِ. لَكِنَّهُ، وَقَبْلَ أَنْ يَجِدَ مَكَانًا مُرِيحًا لِتَنَاوُلِهَا، خَرَجَ ٱلنَّمِرُ مِنْ بَيْنِ ٱلْأَشْجَارِ.
قَالَ ٱلنَّمِرُ بِصَوْتٍ مُدَوٍّ: "أَيُّهَا ٱلْقِطُّ ٱلصَّغِيرُ! مَاذَا تَحْمِلُ بَيْنَ أَسْنَانِكَ؟"
ٱبْتَلَعَ ٱلْقِطُّ رِيقَهُ لَكِنَّهُ حَاوَلَ أَنْ يَبْقَى هَادِئًا. "لَقَدْ وَجَدْتُ هَذِهِ ٱلسَّمَكَةَ بِجَانِبِ ٱلنَّهْرِ، وَأُرِيدُ أَنْ أَتَنَاوَلَهَا."
ضَحِكَ ٱلنَّمِرُ سَاخِرًا وَقَالَ: "هَلْ نَسِيتَ أَنَّنِي أَكْبَرُ مِنْكَ وَأَقْوَى؟ هَذَا يَعْنِي أَنَّنِي أَسْتَحِقُّ ٱلسَّمَكَةَ أَكْثَرَ مِنْكَ!"
رَدَّ ٱلْقِطُّ بِغَضَبٍ: "وَلَكِنَّنِي وَجَدْتُهَا أَوَّلًا!"
زَمْجَرَ ٱلنَّمِرُ، ثُمَّ بِضَرْبَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ مِخْلَبِهِ، أَسْقَطَ ٱلسَّمَكَةَ مِنْ فَمِ ٱلْقِطِّ. تَرَاجَعَ ٱلْقِطُّ إِلَى ٱلْخَلْفِ خَائِفًا، لَكِنَّهُ لَمْ يَرْغَبْ فِي ٱلِٱسْتِسْلَامِ بِسُهُولَةٍ.
فِي تِلْكَ ٱللَّحْظَةِ، قَفَزَ قِرْدٌ عَجُوزٌ حَكِيمٌ مِنْ أَعْلَى شَجَرَةٍ بَعْدَ أَنْ سَمِعَ ٱلْجِدَالَ بَيْنَهُمَا.
فَسَأَلَ ٱلْقِرْدُ: "مَا ٱلْأَمْرُ هُنَا؟"
قَالَ ٱلْقِطُّ غَاضِبًا: "ٱلنَّمِرُ أَخَذَ ٱلسَّمَكَةَ ٱلَّتِي وَجَدْتُهَا!"
تَنَهَّدَ ٱلنَّمِرُ وَقَالَ: "أَنَا ٱلْأَقْوَى، وَلِذَلِكَ لِي ٱلْحَقُّ فِي ٱلْحُصُولِ عَلَيْهَا!"
حَكَّ ٱلْقِرْدُ لِحْيَتَهُ وَقَالَ مُبْتَسِمًا: "حَسَنًا، سَأَكُونُ ٱلْقَاضِيَ بَيْنَكُمَا. سَأَقْسِمُ ٱلسَّمَكَةَ إِلَى نِصْفَيْنِ بِٱلتَّسَاوِي."
ضَحِكَ ٱلنَّمِرُ وَقَالَ: "هَاهَاهَا! كَيْفَ يُمْكِنُ تَقْسِيمُهَا بِٱلتَّسَاوِي؟ مِنَ ٱلْوَاضِحِ أَنَّنِي أَسْتَحِقُّ جُزْءًا أَكْبَرَ!"
أَمْسَكَ ٱلْقِرْدُ ٱلسَّمَكَةَ وَقَسَمَهَا إِلَى جُزْأَيْنِ مُتَقَارِبَيْنِ فِي ٱلْحَجْمِ، ثُمَّ قَالَ: "لَكِنْ بِمَا أَنَّكُمَا لَمْ تَسْتَطِيعَا حَلَّ ٱلْمُشْكِلَةِ بِنَفْسِكُمَا، فَمِنَ ٱلْعَدْلِ أَنْ آخُذَ جُزْءًا صَغِيرًا كَمُكَافَأَةٍ لِي كَقَاضٍ."
ثُمَّ قَضَمَ ٱلْقِرْدُ جُزْءًا صَغِيرًا مِنْ أَحَدِ ٱلنِّصْفَيْنِ، فَأَصْبَحَ أَصْغَرَ قَلِيلًا مِنَ ٱلْآخَرِ. وَبَقِيَ يُعَادِلُ ٱلْأَحْجَامَ بِقَضْمِهَا حَتَّى ٱنْتَهَتْ ٱلسَّمَكَةُ كُلِّيًّا!
فَأَدْرَكَ ٱلنَّمِرُ وَٱلْقِطُّ أَنَّ طَمَعَهُمَا جَعَلَهُمَا يَخْسَرَانِ ٱلسَّمَكَةَ كُلَّهَا فِي ٱلنِّهَايَةِ.
ٱلْعِبْرَةُ مِنَ ٱلْقِصَّةِ
١. ٱلطَّمَعُ لَا يُؤَدِّي إِلَّا إِلَى ٱلْخُسَارَةِ – لَوْ لَمْ يَكُنِ ٱلنَّمِرُ طَمَّاعًا، وَلَوْ لَمْ يَتَمَسَّكِ ٱلْقِطُّ بِٱلسَّمَكَةِ كُلِّهَا، لَكَانَ بِٱلْإِمْكَانِ ٱلِٱسْتِفَادَةُ مِنْهَا مَعًا.
٢. **حَلُّ ٱلْمَشَاكِلِ بِٱلْحِكْمَةِ أ
Judul:
Kucing dan Harimau Berebut Ikan
Tokoh:
- Kucing – Cerdik, tidak mau kalah, tapi
kurang kuat.
- Harimau – Kuat, sombong, dan merasa
berhak atas segalanya.
- Monyet – Bijaksana, suka mengambil
keuntungan dari situasi.
Adegan 1
– Pinggir Sungai
(Suara
gemericik air sungai terdengar. Kucing berjalan pelan di tepi sungai, matanya
berbinar saat melihat ikan besar jatuh dari ember nelayan.)
Kucing: (berseru gembira) Wah! Rezeki
nomplok! Ikan sebesar ini bisa membuatku kenyang seharian! (mengangkat ikan
dengan giginya)
(Tiba-tiba,
suara langkah berat terdengar. Harimau muncul dari balik semak-semak.)
Harimau: (menggeram) Apa yang kau bawa itu,
Kucing?
Kucing: (waspada) Ini ikan yang kutemukan!
Aku menemukannya lebih dulu, jadi ini milikku!
Harimau: (tertawa mengejek) Hahaha! Kau lupa
siapa yang lebih besar dan kuat di sini? Aku lebih pantas mendapatkan ikan itu!
Kucing: (kesal) Tapi aku yang menemukannya
lebih dulu! Itu namanya tidak adil!
(Harimau
menggeram lalu dengan sekali cakaran, ikan itu terjatuh dari mulut Kucing.)
Harimau: Sekarang, ikan ini milikku!
Kucing: (mundur ketakutan) Itu tidak benar!
Adegan 2
– Kedatangan Monyet
(Tiba-tiba,
terdengar suara tawa dari atas pohon. Monyet tua turun dengan santai.)
Monyet: (tersenyum) Wah, wah! Apa yang
sedang kalian ributkan di sini?
Kucing: (berlari ke arah Monyet) Monyet,
tolong aku! Aku menemukan ikan ini duluan, tapi Harimau mengambilnya!
Harimau: (mendengus) Aku lebih besar dan
kuat, jadi aku lebih berhak!
Monyet: (mengelus dagunya) Hmm… kalau
begitu, aku akan membagi ikan ini menjadi dua bagian yang adil.
Harimau: (tertawa) Hahaha! Tidak mungkin!
Aku harus mendapatkan bagian yang lebih besar!
(Monyet
mengambil ikan, lalu membaginya menjadi dua bagian yang hampir sama besar.)
Monyet: Nah, sekarang masing-masing
mendapatkan bagian. Tapi karena aku menjadi hakim di sini, aku harus mendapat
sedikit bagian sebagai upah.
(Monyet
menggigit sedikit bagian ikan, membuat salah satu potongan lebih kecil.)
Harimau: (menggeram) Hei! Sekarang ukurannya
tidak sama!
Monyet: Oh, baiklah. Aku akan menggigit
sedikit bagian yang lebih besar supaya seimbang.
(Monyet
menggigit bagian yang lebih besar, lalu kembali menggigit bagian lain untuk
menyesuaikan. Begitu terus hingga ikan hampir habis.)
Kucing: (membelalak) Hei! Ikan kami semakin
habis!
Harimau: (marah) Kau menipu kami, Monyet!
(Monyet
tertawa dan dengan cepat memakan sisa ikan yang tinggal sedikit.)
Monyet: Hahaha! Nah, sekarang masalah
selesai. Tidak ada lagi ikan yang perlu diperebutkan! (melompat ke atas pohon)
Adegan 3
– Penyesalan
(Kucing
dan Harimau menatap satu sama lain dengan wajah kecewa.)
Kucing: (menghela napas) Karena kita
bertengkar, akhirnya kita tidak mendapatkan apa-apa…
Harimau: (menunduk) Aku pikir dengan
kekuatanku aku bisa mendapatkan semuanya, tapi ternyata aku malah kehilangan
semuanya.
Kucing: (tersenyum kecil) Seharusnya kita
berbagi sejak awal.
Harimau: (mengangguk) Ya… mulai sekarang,
aku akan belajar untuk lebih adil.
(Mereka
berjalan pergi bersama, meninggalkan pinggir sungai dengan pelajaran berharga.)
Pesan
Moral:
- Keserakahan hanya akan membawa
kerugian.
- Masalah sebaiknya diselesaikan
dengan cara yang adil dan kepala dingin.
- Kekuatan bukan alasan untuk
merampas hak orang lain.
TAMAT
مسرحية: "ٱلْقِطُّ وَٱلنَّمِرُ يَتَنَازَعَانِ عَلَى ٱلسَّمَكَةِ"
ٱلشَّخْصِيَّاتُ:
1.
ٱلْقِطُّ (ذَكِيٌّ، قَلِيلُ ٱلْخَوْفِ، لَكِنَّهُ لَا يَسْتَسْلِمُ بِسُهُولَةٍ)
2.
ٱلنَّمِرُ (مُتَعَجْرِفٌ، قَوِيٌّ، يَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَسْتَحِقُّ كُلَّ شَيْءٍ)
3.
ٱلْقِرْدُ (حَكِيمٌ، يُحِبُّ ٱللَّعِبَ)
4.
ٱلرَّاوِي (يَسْرُدُ ٱلْقِصَّةَ وَيُوَضِّحُ أَحْدَاثَهَا)
ٱلْمَشْهَدُ ٱلْأَوَّلُ: عَلَى ضِفَّةِ ٱلنَّهْرِ
(صَوْتُ ٱلْمَاءِ ٱلْمُتَدَفِّقِ. يَمْشِي ٱلْقِطُّ بِبُطْءٍ، ثُمَّ يَرَى سَمَكَةً كَبِيرَةً تَسْقُطُ مِنْ دَلْوِ ٱلصَّيَّادِ.)
ٱلْقِطُّ: يَا لَهُ مِنْ حَظٍّ سَعِيدٍ! أَنَا جَائِعٌ جِدًّا. سَتَكُونُ هَذِهِ وَجْبَةً شَهِيَّةً!
(يَرْفَعُ ٱلْقِطُّ ٱلسَّمَكَةَ بِفَمِهِ وَيَسْتَعِدُّ لِلذِّهَابِ.)
(فَجْأَةً، يَظْهَرُ ٱلنَّمِرُ مِنْ بَيْنِ ٱلْأَشْجَارِ.)
ٱلنَّمِرُ: هَيْ، أَيُّهَا ٱلْقِطُّ ٱلصَّغِيرُ! مَاذَا تَحْمِلُ فِي فَمِكَ؟
ٱلْقِطُّ: لَقَدْ وَجَدْتُ هَذِهِ ٱلسَّمَكَةَ عَلَى ضِفَّةِ ٱلنَّهْرِ. أَنَا وَجَدْتُهَا أَوَّلًا، لِذَا فَهِيَ لِي!
ٱلنَّمِرُ: هَهْ هَهْ هَهْ! هَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَخْلُوقًا صَغِيرًا مِثْلَكَ يَسْتَحِقُّ سَمَكَةً بِهَذَا ٱلْحَجْمِ؟ أَنَا أَكْبَرُ وَأَقْوَى، لِذَا هِيَ لِي!
(يَزْمَجِرُ ٱلنَّمِرُ، ثُمَّ يَخْطَفُ ٱلسَّمَكَةَ مِنْ فَمِ ٱلْقِطِّ بِمُخَالِبِهِ.)
ٱلْقِطُّ: هَيْ! هَذَا لَيْسَ عَدْلًا! لَقَدْ وَجَدْتُهَا أَوَّلًا!
(يَبْدَأُ ٱلْقِطُّ وَٱلنَّمِرُ فِي ٱلْجِدَالِ وَٱلصِّيَاحِ.)
ٱلْمَشْهَدُ ٱلثَّانِي: ٱلْقِرْدُ ٱلْحَكِيمُ يَتَدَخَّلُ
(مِنْ أَعْلَى ٱلشَّجَرَةِ، يُرَاقِبُ ٱلْقِرْدُ ٱلْحَكِيمُ ٱلْجِدَالَ بَيْنَهُمَا.)
ٱلْقِرْدُ: آهْ، آهْ، آهْ... مَاذَا يَحْدُثُ هُنَا؟
ٱلْقِطُّ: أَيُّهَا ٱلْقِرْدُ، سَاعِدْنِي! لَقَدْ وَجَدْتُ ٱلسَّمَكَةَ أَوَّلًا، لَكِنَّ ٱلنَّمِرَ أَخَذَهَا مِنِّي!
ٱلنَّمِرُ: أَنَا ٱلْأَقْوَى، إِذًا لِيَ ٱلْحَقُّ فِي أَخْذِهَا!
ٱلْقِرْدُ: حَسَنًا، سَأَكُونُ ٱلْقَاضِي وَسَأَقُومُ بِقِسْمَةِ ٱلسَّمَكَةِ بِٱلتَّسَاوِي.
(يُمْسِكُ ٱلْقِرْدُ ٱلسَّمَكَةَ وَيَقْسِمُهَا إِلَى جُزْأَيْنِ، وَلَكِنَّهُ يَقُولُ...)
ٱلْقِرْدُ: وَلَكِنْ، كَقَاضٍ، يَجِبُ أَنْ آخُذَ جُزْءًا صَغِيرًا كَمُكَافَأَةٍ لِي.
(يَعُضُّ ٱلْقِرْدُ جُزْءًا صَغِيرًا مِنْ أَحَدِ ٱلْجُزْأَيْنِ.)
ٱلنَّمِرُ: هَيْ! ٱلْآنَ ٱلْأَجْزَاءُ غَيْرُ مُتَسَاوِيَةٍ!
ٱلْقِرْدُ: آهْ، صَحِيحٌ. سَأَقْضِمُ قَلِيلًا مِنْ ٱلْجُزْءِ ٱلْأَكْبَرِ لِيُصْبِحَا مُتَسَاوِيَيْنِ.
(يَسْتَمِرُّ ٱلْقِرْدُ فِي قَضْمِ ٱلْأَجْزَاءِ حَتَّى لَا يَتَبَقَّى شَيْءٌ، ثُمَّ يَأْكُلُ ٱلْبَاقِي.)
ٱلْقِرْدُ: وَٱلْآنَ، ٱنْتَهَى ٱلنِّزَاعُ! لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ سَمَكَةٌ لِلتَّنَازُعِ عَلَيْهَا!
(يَقْفِزُ ٱلْقِرْدُ إِلَى أَعْلَى ٱلشَّجَرَةِ.)
ٱلْمَشْهَدُ ٱلثَّالِثُ: ٱلنَّدَمُ وَٱلتَّعَلُّمُ
(يَنْظُرُ ٱلْقِطُّ وَٱلنَّمِرُ إِلَى بَعْضِهِمَا ٱلْبَعْضِ بِخَيْبَةِ أَمَلٍ.)
ٱلْقِطُّ: لَمْ أَحْصُلْ عَلَى شَيْءٍ...
ٱلنَّمِرُ: وَلَا أَنَا...
ٱلْقِطُّ: لَوْ لَمْ نَتَشَاجَرْ وَقَرَّرْنَا ٱلْمُشَارَكَةَ مُنْذُ ٱلْبِدَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar